Resensi Novel "Anak Perawan di Sarang Penyamun"

Post kali ini berisi tentang resensi salah satu novel lama yang masih diterbitkan ulang, judulnya Anak Perawan di Sarang Penyamun. Dibaca ya! =D

Resensi Novel :
Anak Perawan Disarang Penyamun



1.      Identitas buku
a.       Judul                     : Anak Perawan Disarang Penyamun
b.      Pengarang             : S. Takdir Alisjahbana
c.       Penerbit                 : Dian Rakyat
d.      Tahun terbit           : 2011
e.       Cetakan ke-           : 22
f.       Jumlah halaman     : 110
2.      Isi :
a.       Unsur intrinsik
1.      Tema : perjalanan hidup dan percintaan
2.      Latar :  -Waktu            : malam hari (gelap), petang, kemarin
-Tempat : di hutan, di kota Pagar Alam, di Dusun Endikat
-Suasana : menyeramkan, menyedihkan, menggembirakan
3.      Watak/karakter tokoh :
·         Medasing : awalnya kejam dan jahat, pada akhirnya baik, penyayang
·         Sayu : baik hati, sabar, suka menolong
·         Samad : jahat, licik, penghianat
·         Haji Sahak : baik, sabar
·         Nyi Haji Andun : baik, sabar
·         Sanip (penyamun) : jahat, kejam
·         Tusin (penyamun) : jahat, kejam
·         Amat (penyamun) : jahat, kejam
·         Sohan (penyamun): jahat, kejam
4.      Alur : Maju
§  Perkenalan : seorang saudagar kaya yang bernama Haji Sahak akan segera pergi ke Palembang untuk berdagang bersama anak dan istrinya. Ditengah perjalanan mereka dihadang oleh perampok yang dipimpin oleh Medasing. Mereka semua dibunuh kecuali anak perawannya, Sayu, dibawa ke sarang penyamun oleh Medasing.
§  Konflik : suatu hari Samad yang bertugas mengintai datang untuk meminta bagian. Saat ia melihat Sayu ia langsung jatuh hati dan mengajaknya untuk pergi dan ia berjanji akan membawa Sayu ke orang tuanya. Pada awalnya Sayu setuju, tetapi setelah melihat tingkah laku Samad yang mencurigakan, Sayu menolak walaupun dengan berat hati.
§  Klimaks : setelah merampok Haji Sahak dengan sukses, mereka terus menerus gagal. Sebenarnya itu semua karena Samad yang membocorkan rencana mereka. Satu-persatu anak buah Medasing meninggal, sampai akhirnya hanya satu yang tersisa, yaitu Sanip. Di perkelahian yang terakhir ini, Sanip meninggal. Medasing sangat sedih.
§  Anti-klimaks : persediaan makanan di hutan hampir habis. Sayu mengajak Medasing untuk pergi dari hutan ke kota. Akhirnya mereka pergi ke kota Pagar Alam dan langsung ke rumah Sayu. Ternyata kini rumah itu sudah menjadi milik orang lain. Penghuni baru tersebut berkata bahwa Nyi Haji Andun sekarang tinggal di pinggiran kampung.
§  Penyelesaian : lima belas tahun kemudian  Medasing pergi ke tanah suci. Saat ia kembali, warga kampung beramai-ramai mengubah namanya menjadi Haji Karim. Pada suatu malam, ada yang mengetuk pintu rumah Haji Karim. Ternyata itu adalah Samad dengan istrinya, Sayu. Mereka diajak untuk tinggal bersama Haji Karim. Mereka setuju, tetapi ketika pagi hari mereka pergi dengan diam-diam entah kemana. Medasing hidup bahagia bersama keluarganya.
5.      Amanat : sejahat apapun seseorang, pada akhirnya pasti ia akan menyesal dan bertobat, dan kita harus jadi seorang yang pemaaf.
6.      Sudut pandang : orang ketiga pelaku sampingan
b.      Sinopsis :
Di sebuah hutan yang lebat dan jauh dari pemukiman warga, berdirila sebuah gubuk yang ditinggali oleh lima orang penyamun yang berbadan kekar dan menyeramkan, yaitu Medasing, Sanip, Tusin, Amat, dan Sohan. Mereka biasa merampok saudagar kaya yang melewati lembah Endikat.
Pada suatu saat, seorang saudagar kaya yang bernama Haji Sahak akan segera pergi ke Palembang untuk berdagang. Mereka membawa puluhan kerbau dan barang lainnya. Anak dan istrinya juga ikut pergi bersamanya. Di tengah perjalanan, Haji Sahak dihadang oleh sekelompok perampok yang dipimpin oleh Medasing. Semua rombongan Haji Sahak dibunuh kecuali anak perawannya yang bernama Sayu, ia dibawa ikut ke sarang penyamun tersebut.
Suatu hari, Samad yang ditugaskan Medasing untuk menjadi pengintai datang untuk meminta bagiannya dari merampok, tetapi ketika ia melihat Sayu, ia langsung jatuh hati dan berencana untuk membawa kabur Sayu dan ia berjanji akan membawanya kembali ke orang tuanya. Pada awalnya Sayu setuju, tetapi setelah melihat kelakuan Samad yang mencurigakan Sayu pun menolak untuk ikut Samad walaupun dengan berat hati.
Setelah merampok keluarga Haji Sahak dengan sukses, perampokan-perampokan mereka selanjutnya terus menerus gagal. Sebenarnya itu semua terjadi karena rencana mereka  selalu dibocorkan oleh Samad. Satu persatu anak buah Medasing luka-luka dan meninggal sampai akhirnya anak buah Medasing hanya tersisa satu yaitu Sanip. Medasing sangat sedih, ditambah lagi pada perkelahian mereka yang terakhir ini Sanip meninggal. Tersisalah Medasing dan Sayu di sarang penyamun tersebut. Saat Medasing terluka parah, Sayu bingung karena dia mau menolong tapi dia takut. Pada akhirnya Sayu memberanikan diri mengobati luka Medasing dengan takut dan gemetaran. Pada awalnya mereka tidak banyak bicara, tetapi lama-kelamaan mereka menjadi akrab. Medasing sering menceritakan tentang pengalaman hidupnya. Ternyata, Medasing adalah keturunan orang baik-baik. Ayahnya adalah seorang saudagar kaya. Ketika ia masih kecil, ayahnya dirampok dan dibunuh. Medasing dibawa oleh penjahat itu ke sarangnya. Karena pimpinan penjahat itu tidak mempunyai anak, Medasing sangat disayanginya. Medasing pun diangkat menjadi anak angkatnya. Setelah ayahnya meninggal, Medasing langsung menjadi pimpinan penyamun itu. Medasing sebenarnya tidak pernah bercita-cita menjadi penyamun. Setelah mendengar cerita itu, hati Sayu pun luluh dan ia tidak benci lagi kepada Medasing. Sayu merawat Medasing dengan sepenuh hati sampai sembuh.
Persediaan makanan di hutan hampir habis. Sayu khawatir, oleh karena itu ia mengajak Medasing untuk keluar dari persembunyian. Akhirnya mereka keluar ke kota Pagar Alam. Mereka langsung menuju rumah Sayu. Sayu sangat terkejut karena rumahnya sekarang sudah menjadi milik orang lain. Menurut penghuni baru tersebut, ibunya sekarang tinggal di pinggiran kampung. Mendengar itu, mereka langsung pergi ke tempat Nyi Haji Andun. Ternyata saat diserang oleh Medasing, Nyi Haji Andun hanya luka parah dan berhasil sembuh. Sekarang ia tinggal sendiri dengan keadaan sakit kerasa. Nyi Haji Andun sangat senang melihat Sayu dihadapannya. Setelah itu, Nyi Haji Andun meninggal. Medasing menjadi sangat malu dan menyesal mengingat betapa kejamnya ia selama ini.
Setelah itu, Medasing merubah total hidupnya. Ia menjadi seorang yang kaya dan penyayang. Lima belas tahun kemudian Medasing pergi ke tanah suci. Saat ia kembali, warga kampung beramai-ramai menyambut Medasing dan merubah namanya menjadi Haji Karim. Pada suatu malam saat Haji Karim sedang merenungkan masa lalunya, ada yang mengetuk pintu rumahnya. Ternyata itu adalah samad dan istrinya, yaitu Sayu, dan mereka diajak untuk tinggal bersama Haji Karim. Mereka setuju tetapi saat pagi harinya mereka pergi diam-diam entah kemana, sementara itu Medasing atau Haji Karim hidup dengan bahagia bersama keluarganya.
c.       Kelebihan buku :   Alur ceritanya maju sehingga mudah dimengerti
d.      Kelemahan buku : Bahasanya sedikit membingungkan.
e.       Kesimpulan dan saran : Novel ini ceritanya menarik, namun saya menyarankan agar buku ini diterbitkan dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen "Terima Kasih, Kak"

Contoh Pidato