Cerpen "Terima Kasih, Kak"

Di post kali ini, aku ingin membagikan cerpen yang aku buat tahun lalu. Ceritanya mungkin sederhana tetapi semoga menarik untuk dibaca!

Terima Kasih, Kak

Di sebuah desa yang bernama Desa Kasih, hiduplah sepasang kakak beradik bersama ibunya. Mereka bernama Nina dan Lisa. Mereka hidup bahagia, meskipun dalam kesederhanaan. Ibu mereka adalah seorang pramuwisma, sedangkan ayah mereka tidak pernah kembali dari hutan ketika sedang berburu bertahun-tahun yang lalu.
Nina dan Lisa, murid SMA yang umurnya hanya berbeda 2 tahun, adalah anak yang rajin dan pandai. Mereka seringkali memenangkan perlombaan di desanya. Mereka juga selalu membantu ibunya melakukan pekerjaan rumah, apalagi melihat ibunya yang sudah lelah bekerja seharian.
Pada suatu pagi, seperti biasa, Nina dan Lisa hendak berpamitan dengan ibunya, tetapi mereka sangat terkejut saat melihat ibunya terbaring lemas di kamar. Suhu badan ibu mereka sangat tinggi, tetapi ibunya menolak untuk dibawa ke puskesmas. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan ibunya untuk beristirahat dirumah. Tetapi, ibu tetap memaksakan dirinya untuk pergi bekerja tanpa sepengetahuan kedua anaknya.
Setelah tiga hari, suhu badan ibu masih belum turun juga. Setelah dipaksa oleh Nina dan Lisa, akhirnya ibu setuju untuk dibawa ke puskesmas. Dokter yang bertugas memberikan obat penurun demam dan mengambil darah ibu untuk diperiksa di laboratorium. Dua hari kemudian, ketika Nina dan Lisa pulang sekolah, mereka sangat terkejut melihat rumahnya penuh dengan tetangga-tetangga.
“Ada apa ini?” Tanya Lisa dengan panik.
“Tadi saya menemukan ibu kalian terjatuh di depan rumah, dia terlihat sangat pucat dan badannya sangat dingin. Maaf saya tidak bisa berbuat apa-apa.” Jawab Pak Adi dengan sedih.
Nina dan Lisa hanya bisa menangis dan menyesali kepergian ibunya. Mereka sangat menyesal mengapa mereka tidak memaksa ibu mereka untuk langsung dibawa ke puskesmas pada hari itu.
Keesokan harinya, ibu mereka dimakamkan dengan bantuan para tetangga. Nina dan Lisa terus menangis sepanjang perjalanan, memikirkan penyakit apa yang telah merenggut nyawa ibunya. Setelah pemakaman selesai, mereka segera menuju ke puskesmas untuk mengambil hasil pemeriksaan darah ibu mereka. Ternyata, ibunya terserang penyakit demam berdarah. Mereka sangat sedih karena mereka baru dapat mengetahuinya setelah ibunya meninggal.
“Kak, Lisa ingin menjadi dokter agar dapat mengobati orang-orang yang sakit seperti ibu, agar Lisa dapat mengobati kakak dan semua orang, agar tidak ada yang kehilangan orang terkasih mereka seperti kita.” Lisa berkata kepada kakaknya.
“Baiklah Lisa, kakak pasti akan mendukung mimpimu itu!” Jawab Nina.
Nina bingung harus melakukan apa setelah kepergian ibunya, orang yang biasanya mencari uang untuk kehidupan mereka. Akhirnya, Nina memutuskan untuk berhenti sekolah dan mencari uang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari serta biaya sekolah Lisa. Awalnya Lisa tidak setuju dengan keputusan kakaknya itu, tetapi, di sisi lain, ia sangat ingin menjadi seorang dokter. Akhirnya, Lisa setuju dan bertekad tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan kakaknya.
Nina bekerja seperti ibunya, dari rumah ke rumah mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu, mengepel dan pekerjaan rumah lainnya. Untuk menambah pemasukan, setiap hari Nina mengajari anak-anak yang kesulitan dalam pelajaran di dekat rumahnya. Dengan upah sukarela dari orang tua anak-anak tersebut, Nina menabung untuk biaya kuliah adiknya dua tahun lagi.
Dua tahun telah berlalu, Lisa akhirnya lulus dari SMA dengan nilai yang sangat memuaskan. Lisa segera mendaftarkan diri ke universitas di Jakarta. Ia sangat terkejut ketika melihat biaya yang harus dibayar sangat besar.
“Kak, sepertinya Lisa akan membatalkan niat Lisa untuk kuliah.”  Lisa berkata.
“Apa kamu serius, Lisa? Mengapa? Kamu tidak boleh menyerah begitu saja seperti ini. Kalau uang kita tidak cukup untuk biaya kuliah kamu, kakak akan pinjam uang ke tetangga-tetangga. Yang terpenting, kamu harus kejar mimpimu itu!” Nina menjawab dengan tegas.
“Tapi kak, aku sudah cukup banyak menyusahkan kakak. Aku tidak mau kalau kakak harus bekerja lebih keras lagi demi membiayai kuliahku.” Jawab Lisa dengan sedih.
Mata Nina berkaca-kaca, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia juga bingung bagaimana cara ia mengembalikan uang tersebut jika ia sampai meminjam uang tetangga. Mereka berdua hanya dapat terdiam selama beberapa menit. Tiba-tiba, telepon berdering. Nina segera mengangkat telepon tersebut. Ekspresi Nina yang sebelumnya sedih berubah menjadi senyuman setelah mendengar telepon itu.
“Siapa yang menelepon, kak?” Tanya Lisa setelah telepon itu dimatikan.
“Universitas di Jakarta itu yang menelepon,” kata Nina, “Lisa, karena nilai kamu yang sangat baik, kamu diterima tanpa perlu membayar biaya pendaftaran.”
Lisa sangat bahagia sampai tidak bisa berkata-kata. Seminggu kemudian, Lisa berangkat ke Jakarta, meninggalkan kakaknya di desa. Untuk pertama kali, kakak beradik itu berpisah. Mereka selalu bersama sejak kecil.
Lisa belajar dengan sangat serius di Jakarta. Setiap minggu, Lisa selalu mengirim surat ke Nina untuk menceritakan kehidupannya di Jakarta, lalu Nina membalas dengan cerita kehidupannya di desa. Kadang, ada uang yang disertakan dalam surat yang dikirim oleh Nina, yaitu untuk biaya kuliah dan makan sehari-hari Lisa.
Setelah bertahun-tahun mereka melakukan itu, akhirnya Lisa lulus. Lisa langsung kembali ke desanya dan memutuskan untuk menjadi dokter di desanya itu, desa Kasih. Semua warga dan tetangga-tetangga menerima kedatangan kembali Lisa dengan sangat bahagia, terutama Nina. Mereka sangat bangga terhadap Lisa yang berhasil kuliah di Jakarta dan telah menjadi dokter.
“Lisa, kakak sangat bangga akhirnya kamu berhasil menjadi dokter.” Nina berkata dengan bahagia.
“Terima kasih sudah membiayai biaya sekolah dan kuliah Lisa yang tidak sedikit ini. Terima kasih sudah mengorbankan pendidikan kakak demi mencari uang untuk kehidupan sehari-hari kita. Terima kasih sudah membanting tulang demi membahagiakan Lisa. Terima kasih sudah menyemangati Lisa ketika Lisa hampir menyerah. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih, kak.” Kata Lisa sambil menangis dan memeluk kakaknya.

Sejak Lisa kembali ke desa Kasih, Lisa bekerja menjadi dokter di puskesmas desanya dan membuka praktek dirumahnya pada saat ia sedang tidak bekerja. Lisa sangat senang telah berhasil menyembuhkan banyak orang, dan ia sangat bersyukur tidak jadi menyerah akan mimpinya itu hanya karena kendala biaya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Novel "Anak Perawan di Sarang Penyamun"

Contoh Pidato